“Sabar saja menghadapi Ibu, orang kalau sudah makin tua memang sifatnya bakal kembali lagi seperti anak kecil.” Nasihat semacam ini sering diucapkan antaranggota keluarga ketika menghadapi orang tua yang tiba-tiba menjadi sangat manja, mudah menangis, keras kepala, atau gampang tersinggung hanya karena masalah sepele. Anggapan ini berkembang menjadi stereotipe global bahwa penuaan psikologis adalah cerminan terbalik dari masa kanak-kanak. Namun, menjadikannya sebuah generalisasi mutlak bagi semua orang tua adalah sebuah tindakan yang tidak adil dan tidak akurat secara ilmiah.
Dari perspektif psikologi perkembangan dan gerontologi, perubahan perilaku pada sebagian lansia bukanlah bentuk kemunduran kepribadian yang disengaja agar diperlakukan seperti balita. Perubahan tersebut umumnya merupakan manifestasi dari runtuhnya mekanisme pertahanan ego (coping mechanism) akibat berbagai kehilangan yang mereka alami secara beruntun. Fase lansia adalah fase penuh kehilangan: kehilangan peran sosial pascapensiun, kehilangan kemandirian fisik akibat penyakit kronis, kehilangan teman sebaya atau pasangan hidup yang meninggal dunia, hingga penurunan kemampuan finansial.
Rentetan kehilangan ini memicu stres emosional yang luar biasa, kecemasan akan masa depan, dan perasaan tidak berdaya (helplessness). Ketika seorang lansia menjadi sangat menuntut perhatian, menolak makan jika tidak ditemani, atau marah ketika dilarang melakukan aktivitas fisik yang berat, itu adalah bentuk komunikasi bawah sadar mereka untuk mengekspresikan rasa takut diabaikan dan keinginan untuk tetap memegang kendali atas hidup mereka sendiri yang perlahan terkikis.
Faktor Pemicu Perubahan Perilaku pada Lansia
-
Faktor Psikososial: Perasaan kesepian (loneliness syndrome), sindrom sarang kosong (empty nest syndrome) ketika anak-anak telah mandiri dan pergi dari rumah, serta perasaan bahwa diri mereka sudah tidak berguna lagi bagi lingkungan sekitar.
-
Faktor Neurologis Organik: Degradasi struktural pada lobus frontal otak—bagian yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, pengendalian emosi, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls sosial. Kerusakan di area ini, baik akibat penuaan sel murni maupun stroke mikro yang tidak disadari, menyebabkan lansia kehilangan kemampuan menghambat emosi negatif.
Penting untuk digarisbawahi bahwa fenomena perubahan sifat menyerupai anak kecil ini tidak berlaku untuk semua orang. Banyak lansia yang berhasil melewati fase penuaan dengan apa yang disebut sebagai successful aging atau penuaan yang sukses. Mereka tetap memiliki regulasi emosi yang matang, bijaksana, adaptif terhadap perubahan fisik, dan mampu mempertahankan fungsi kognitif serta sosial yang prima hingga akhir hayatnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, gaya hidup di masa muda, keaktifan stimulasi mental, serta kualitas sistem pendukung (support system) dari keluarga besar.
Menghadapi perubahan perilaku orang tua yang mengarah pada sifat kekanak-kanakan menuntut empati yang mendalam, bukan penghakiman atau perlakuan yang merendahkan martabat (infantilization). Memperlakukan lansia dengan cara berbicara seperti menghadapi bayi (baby talk) justru dapat merusak harga diri mereka dan memicu depresi. Langkah terbaik adalah mendengarkan kekhawatiran mereka dengan sabar, melibatkan mereka dalam keputusan-keputusan keluarga berskala kecil untuk mempertahankan rasa dihargai, serta tetap waspada apabila perubahan sifat tersebut terjadi secara mendadak dan ekstrem, karena bisa jadi itu adalah indikasi awal dari gangguan depresi geriatri atau demensia vaskular yang memerlukan intervensi medis khusus.
